Sabtu, 23 November 2013

Aku Lelah Menjadi Penonton...


Namaku Bunga, ya bunga...

Banyak kisah yang ingin ku sampaikan, ku keluarkan agar perasaanku reda... tapi untuk saat ini aku hanya akan bercerita dan bertanya...

Apakah kalian tau cinta?

Cinta yang membuat semua orang tergila-gila karenanya...
Kalau kalian bertanya padaku, ku akan menjawab
cinta itu bagaikan drama

Apa kalian juga berfikir seperti itu?

Bagaimana pendapat kalian?

Atau kalian menilai itu sebuah hal aneh?


Ya, bagiku cinta itu bagaikan drama...

...Drama dimana ada pemain-pemain yang bermain disana. Entah itu pemain utama, dimana kisah cinta kita yang mengalami sendiri. Ataukah kita tokoh sampingan, dimana kita menjalani drama cinta tapi kita bukan pemain utama yang diduakan atau jadi selingkuhan. Ataupun kita hanya seorang penonton dalam kisah cinta kita sendiri hanya terpaku melihat sosoknya dan kisah cintanya dengan orang lain?...


Jadi, bagaimana kisah cinta kalian sejauh ini?

Apakah kalian merasa menjadi tokoh utama yang bahagia? Kalau ya, bahagiakah kalian?

Apa kalian merasa sebagai tokoh sampingan? Kalau ya, bahagiakah kalian?

Atau kalian merasa sebagai penonton saja?


Inilah kisah cintaku, aku yang hanya dapat melihatnya dari kejauhan...

Aku lelah menjadi penonton...

Aku ingin menjadi tokoh utama yang bisa berada di sampingnya. Tanpa sakit harus melihatnya dengan orang lain, tanpa harus ragu apakah keberadaan diriku merusak kisah cintanya. Tanpa harus takut dengan keberadaan diriku, cintanya akan bertepuk sebelah tangan dan tak akan bahagia

Aku melihatnya ya, Sen, membuatku bahagia. Sen, sudah lama ku mengenalnya, kurasa ia juga mengenalku, sangat mengenalku. Sudah genap beberapa tahun ku menyayanginya. Aku yang melihatnya dari belakang, mensupport dan menunggu dirinya apapun yang terjadi. Meski dimakan usia, meski tubuhku akan hancur dan aku tak bisa bergerak lagi aku akan tetap menunggunya. Karena aku sudah terlanjur sayang padanya. Aku sudah membuat janji dengannya. Janji akan menunggu... Menunggunya datang, dan menyayangiku

Apakah kalian bisa merasakan bagaimana menjadi penonton?

Bagaimana kalian hanya akan menikmati kisah cintanya?

Bagaimana kalian tak bisa berbuat apa-apa?

Sebagaimana rapuhnya kalian untuk mau bisa berbuat banyak untuknya?

Beberapa waktu lalu ku ceritakan hal itu pada temanku, seberapa inginnya aku menjadi pemain utama dalam kisah cintanya. Menjadi pemain utama dan menggabungkan indahnya simfoni hatiku dengannya. Aku telah lelah menjadi penonton. Aku lelah, bukan karena aku harus menunggunya, tetapi aku lelah dengan sikapnya di depanku. Ya, Sen memang tampak acuh tak acuh padaku. Sering ia membuang muka, tak mendengarkan perkataanku. Sering pula ia menghancurkan hatiku, denagan caranya sendiri. Entah apakah itu cobaan Tuhan untuk hati dan cinta kita berdua ataukah ini hanya jalan untuk membuktikan bahwa Sen bukan untukku? Aku tak tau...

Ku selalu melihat Sen, yang entah kenapa semakin berubah. Terkadang hatiku senang dibuatnya, namun juga terkadang hatiku hancur lebur seperti gelas yang mudah pecah. Sen, semenjak ku mengenalnya ku sudah menyayanginya. Sen, entah sudah berapa lama kau buatku menunggu. Tapi saat-saat terbaik yang kuingat, membuat waktu yang sudah bertahun-tahun itu terasa sehari dua hari.

Sen, taukah kamu ku sering bermimpi tentangmu? Entah itu mimpi sedih ataupun bahagia, namun semua mimpi itu membuatku meneteskan air mataku berkali-kali. Ku terkadang teteskan air mata bahagia, namun ku sadar dengan mimpiku yang slalu mengingatkanku pada dirimu ku tak bisa melupakanmu. Aku tak bisa melupakanmu sepenuhnya, dan melihatmu menjadi semakin menjauh membuat hatiku sakit Sen. Taukah kau sen? Aku disini menunggumu. Menunggu janjimu padaku, yang masih ku dekap hangat sampai sekarang. Ku takkan membuatnya jatuh ataupun rusak, ataupun berkurang. Kan ku peluk erat dan ku dekap hangat janjimu, karena aku menyayangimu, Sen...

Begitulah kisahku, ku tetap berharap padanya. Ku menunggu sampai saat Sen menghancurkan hatiku. Ia membuatku menunggu, sampai akhirnya waktupun tiba. Dimana aku sadar aku harus melupakannya. Hatiku terasa teriris-iris terasa perih dan menyakitkan. Yang membuat ku berjanji kembali pada diriku sendiri pada saat Ulang Tahunnya. Ku berjanji dari saat itu aku akan mencoba dan akan slalu mencoba untuk Melupakan dirinya. Oh Sen... Ku ingin kau bahagia, dengan siapapun itu asalkan bisa membuatmu bahagia, ku akan melepasmu. Itulah perkataanku, tapi akupun tak pernah bisa ikhlas sepenuhnya melihatmu dengan yang lain.

Sen, taukah kamu ku sering bermimpi tentangmu? Entah itu mimpi sedih ataupun bahagia, namun semua mimpi itu membuatku meneteskan air mataku berkali-kali. Ku terkadang teteskan air mata bahagia, namun ku sadar dengan mimpiku yang slalu mengingatkanku pada dirimu ku tak bisa melupakanmu. Aku tak bisa melupakanmu sepenuhnya, dan melihatmu menjadi semakin menjauh membuat hatiku sakit Sen.

Pikiranku ternyata bersebrangan dengan temanku, Io (si penulis) ia malah ingin menjadi penonton. Aku bingung pada dirinya. Aku ingin sekali menjadi pemain utama, yang bisa bersamanya dan tak hanya menjadi penontonnya. Sudah sering ku katakan padanya tak enak menjadi diriku. Menjadi penonton yang ku sudah rasakan takkan bisa berbuat apa-apa. Tapi entah, ia berfikir bahwa dengan menjadi penonton ia akan lebih mengetahui Idham dari sisi manapaun. Seperti diriku, ya ku memang setuju padanya. Dengan menjadi penonton kalian pasti akan tau bagaimana watak tokoh utama, pelaku sampingan dll. Namun tetap aku tak setuju, aku lebih berpengalaman dibandingkan dirinya dalam hal menjadi penonton. Mungkin ada sisi baiknya, tapi lebih banyak sisi buruknya...

Sen seandainya saja kau tau aku akan menunggumu, apa kau nantinya akan kembali padaku?
Apa kau akan tetap menjadi Sen yang kukenal?
Apakah kau akan terus terdiam dan malah menjauhiku?
Ku ingin kau tau disini ku menunggumu...





"By Flazia Sonia"


Kisah ini ditunjukkan untuk seorang perempuan bernama "Ais" yang kuat diluar sana. Terima kasih sudah percaya padaku untuk menulis kisahnya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar